Le Voyage Gourmand

The life we live is a grand story itself!

days swiftling away

6 days to what you’re asking? to my depart back to Indonesia.

Whenever I try to study, I always just end up laying on my bed doing some random shit

allthefunnyposts:

This…is me.

Featured at All The Funny Posts

(via jaeopardize)

Newsletter

Deadline newsletter sebenarnya sudah lewat sejak lama, lebih dari satu minggu? satu bulan? (maaf banget kawan kawan :( ) bukannya aku lupa atau malas, itu juga bukan hanya alasan, tapi aku tak kunjung menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan betapa extraordinaire-nya perjalanan ini. Pour moi, cet expérience est encore plus qu’une aventure, apparemment je n’arrive jamais à trouver les bonnes phrases à décrire. En plus, je suis nulle en écriture :(

Setelah menyampaikan selamat tinggal kepada keluarga dan teman-teman yang ikut sampai ke bandara, aku baru menyadari bahwa aku baru akan bertemu mereka lagi dalam waktu setahun. setahun. Tersendak. Di dalam pesawat aku mulai panik didalam hati, namun disaat yang sama je suis très excitée pour partir! bagaimana tidak, setelah dua tahun penuh menunggu hari dimana Aku akan berangkat untuk program AFS setahun benar benar tiba ! j’aurais dire, ini seperti impian bagi kebanyakan orang. Bisa dibilang Aku bersyukur bisa jadi satu dari 8000 remaja seumur yang mengikuti tes Bina Antar Budaya yang lulus dan berangkat !

Perancis. Nama negara itu menjadi pilihan pertamaku untuk program pertukaran pelajar, AFS. Hanya saja, Aku cuma tau nama ibu kota negaranya, Paris. Dan bahasanya yang katanya tersulit di dunia. Selain itu Aku tidak tahu banyak, Namun, Perancis sudah terkenal dengan budaya nya yang kaya, dan juga salah satu dari kelompok negara maju di Eropa dan dunia. Dari situ aku tertantang untuk belajar lebih banyak tentang Perancis. 

Chaque personne ont leurs attentes, their expectations, harapan masing-masing. Alors moi aussi avoir plusieurs. Pada orientasi nasional dan orientasi di negara kedatangan para senior sudah membahas tentang hal ini. Jawaban peserta rata-rata sama, mendapatkan banyak teman atau cepat fasih dalam bahasa, lalu senior menegaskan satu jawaban lainnya yang lebih penting dari dua hal itu, keluarga. mengingat kita semua akan tinggal bersama famille d’accueil selama setahun, maka dari itu penting untuk dapat berbaur dengan keluarga, mereka yang akan menjadi keluarga kedua bagi para AFSers, mengenal kami lebih dulu. Disaat itu bertambah semangat ku. Aku akan bertemu keluarga ku yang baru untuk setahun dalam beberapa hari ! seperti apakah mereka ? harus bilang apa Aku saat pertama bertemu ? seperti apa rumah mereka ? seperti apa saudara-saudara host ku ? saat itu aku khawatir, gelisah, juga semangat. Namun kekhawatiran ku hilang seketika saat pertama kali bertemu dengan keluarga di stasiun kereta. Aku ingat aku begitu canggung saat kami saling menyapa. Oh, dan juga, sapaan mereka adalah dengan saling mencium pipi satu sama lain, canggungnya bukan main. Aku sama sekali tidak terbiasa. 

Hari hari pada bulan pertama di Perancis, benar-benar bulan penuh kejutan. Des bonnes surprises. Aku dikenalkan dengan lingkungan baru yang tak ku kenal sebelumnya. Benar benar jauh lebih seru dari yang kubayangkan. Nyatanya negara ini menyuguhkan lebih banyak lagi hal hal yang menarik dari sekedar La Tour Eiffel. Hari pertama sesampainya di rumah famille d’accueil, aku segera merasa tidak asing, très confortables. Kedua host parents aku panggil ‘Maman’ dan ‘Papa’, sebutan ibu dan ayah di perancis. Mereka menganggap itu manis, karena dua exchangers di dua tahun sebelumnya memanggil mereka sesuai nama panggilan. Maksud ku memanggil seperti itu juga agar terasa lebih seperti relasi orangtua dan anak. Mereka tinggal di rumah bertingkat 2 di satu kota kecil bernama Longué. Lantai satu digunakan untuk toko keluarga dan kami tinggal di lantai dua. disitu ada cerita lucu, Ayah kandung ku bilang bahwa aku akan ditempatkan di keluarga yang punya toko bunga. heboh aku langsung berimajinasi seperti apa toko bunganya nanti. ku bayangkan aku akan ikut bantu jualan, harum bunga bungaan disekeliling rumah, belajar merangkai bunga, sampai cerita sinetron yang bertemu cowok ganteng di dalam toko (yang ini karangan temanku). Wah banyaknya bukan main imajinasi yang muncul. Namun sampai di tempat, saat Maman membawaku ke dalam toko yang kulihat bukan bunga-bungaan tapi 180 derajat berbeda, yaitu senjata. yep,  rupanya bukan toko bunga namun toko berburu. Ayahku keliru besar. di dalam toko bukan berwarna warni dan harum wangi bunga-bungaan, namun dikelilingi pakaian berburu, senjata-senjata berburu, burung-burung hiasan asli yang dikeringkan. Bukannya aku kecewa, bukan, sama sekali tidak. Justru dengan begitu aku bisa belajar tentang berburu yang tidak kuketahui sama sekali.

Berkenalan dengan keluarga baruku, Papa dan Maman, Stephen 20 tahun, Jason 16 tahun, dan Polar anjing mereka yang berumur 11 tahun. Tout suite, j’adorée déjà ma famille, ils sont tous marrants et ouverts. Aku tidak langsung cas cis cus bahasa perancis, awalnya aku tidak tahu apapun selain bonjour dan merci. Maman menjelaskan hal-hal dengan bahasa tangan dan gestur, bahasa internasional pertama sebelum bahasa Inggris. Untungnya Jason bisa berbahasa inggris karena bahasa inggris kedua host parent ku sama bagus dengan aku berbahasa perancis waktu itu. Jason returnee dari Denmark, disana Ia melancarkan bahasa inggris dan belajar bahasa Danish. Jadi Ia yang menjelaskan peraturan-peraturan rumah. Stephen jail dan senang melucu, Ia sering bernyanyi dengan gaya dan suara yang di buat buat, sayangnya malam itu Ia kembali ke apartemennya di Nantes tempat Ia berkuliah, jadi kami tidak berbicara banyak.

Hari pertama sekolah, aku tidak tau apa saja yang harus ku persiapkan. keluargaku menerangkan bahwa aku dan Jason ditempatkan di sekolah yang sama, di kota Saumur 20 menit dengan bus, kami akan bersama sama berangkat dan pulang sekolah dengan bus. Aku ditempatkan dikelas science premiere, seperti IPA kelas dua SMA dan Jason di kelas satu, seconde. Aku bersemangat untuk berkenalan dengan banyak teman baru, masalahnya, aku tidak tahu bagaimana mereka bersosialisasi, awalnya aku kira akan lebih mudah karena mereka pasti mengerti bahasa inggris, rupanya sama sekali tidak. walau sekarang aku tahu bahwa banyak kata-kata bahasa inggris yang di ambil dari bahasa perancis. tapi orang-orang perancis tidak mengerti sama sekali bahasa inggris. aksen mereka begitu kuat jadi sulit dimengerti saat berbicara bahasa asing. bagaimanapun aku dipaksa untuk dapat cepat berbicara bahasa perancis. 

Aku hanya mengenakan kaos lengan panjang, jeans dan crocs. saat keluar dari rumah aku mulai kedinginan, padahal tanggal 5 september masih bisa dibilang été (musim panas). Sekolah Saint-Louis merupakan sekolah privat katolik dan salah satu dari sekolah favorit yang mencakup primaire, college, dan lycée (SD-SMP-SMA). Sekolah ini sudah berdiri sejak lama dari abad perang dunia pertama. Beberapa bangunan masih dipertahankan gaya tahun 1900-annya, dari tangga, gereja, dan gedung utamanya. Benar-benar seperti di tv-tv. Rupanya ada satu lagi anak AFS yang satu sekolah dengan ku, dia orang amerika namanya Nolan. kami sama-sama berkenalan dengan bahasa inggris. dia sudah belajar bahasa perancis selama 3 tahun jadi tentunya ia bisa membantu ku. Kami ditempatkan di suatu ruangan didalam perpustakaan. yang nantinya dijelaskan bahwa ruangan itu khusus bagi para étrangers, rupanya siswa exchanger bukan hanya Aku dan Nolan, namun ada sekitar 50 orang lainnya. aku terkejut. je n’ai pas préparée pour ça. rupanya di sekolah kami ada program pertukaran pelajar-nya sendiri antar sekolah dari satu negara ke negara lain. Sebelum masuk kelas, para étrangers yang baru datang di berikan tes uji-coba untuk kelas FLE (français langue étranger) setiap étrangers punya kelas tambahan sendiri untuk membantu dalam bahasa, tentunya ini sangat membantu. Tanpa mengerjakan tes aku yakin aku akan ditempatkan di kelas yang paling dasar.

Masuk ke dalam kelas premiere science 2 atau 1ére S2, aku mulai berkenalan dengan beberapa murid. Mereka rata-rata satu tahun dibawahku. Wali kelas kami guru SVT (geografi-biologi) yang lancar berbahasa inggris, jadi Ia banyak membantu. Dikelas bukan hanya aku murid exchanger, ada 3 orang lainnya yaitu Aran (Canada), Bence (Hungaria), dan Dominica (Slovakia). Di awal-awal bulan kami sering bersama, disitulah titik dimana aku tidak suka menjadi satu dari banyak exchanger di sekolah. Pastinya aku beruntung bisa berteman dengan banyak exchangers lainnya diluar AFS, mereka begitu beragam dan aku belajar banyak dari mereka. Namun disisi lain para murid-murid jadi terbiasa dengan exchangers, beberapa dari mereka masih s’interest à nous juga banyak bertanya, namun kebanyakan dari mereka tidak begitu banyak peduli. Mereka tidak begitu terbuka dengan kami, hanya sekedar basa-basi. Awalnya aku jadi kesusahan dalam berteman, satu bulan awal aku mengerti kalau aku tidak bisa menunggu untuk ‘diajak’ bareng dengan teman-teman lokal, harus aku yang aktif menghampiri orang-orang, parahnya dengan bahasa yang terbatas. Kalau tidak aku akan terus menghabiskan waktu bersama exchangers lainya, maka dari awal aku memberanikan diri untuk lebih dulu membuka pembicaraan ke teman-teman sekelas. Namun awalnya tidak semudah itu keberanianku muncul. Awalnya aku sedih karena aku berpikiran titik masalah nya ada di diriku mengapa mereka begitu ‘cuek’, aku kira aku tidak begitu ‘menarik’ untuk diajak sosialisasi. Namun aku berusaha buang pikiran itu jauh-jauh dan mulai mengutarakan ‘je peux manger avec vous?’ Tentu saat mereka ngobrol aku tidak banyak mengerti, tiga bulan awal aku hanya mengikuti mereka seperti parasit tanpa benar-benar mengikuti pembicaraan. Bosannya bukan main. Kadang aku capek sendiri. Namun tentu itu tidak menghentikan ku disitu. Aku yakin bahwa itu semua butuh waktu, pertama karena bahasaku yang pas-pas an, dan kedua berteman dengan budaya dan topik pembicaraan yang berbeda.

Setelah 3 bulan penuh tinggal disini, Aku mempelajari kebudayaan Perancis seperti sejarah dan sastra perancis yang ku pelajari di sekolah, walaupun awal-awal aku tidak mengerti seluruhnya apa yang dijelas kan guru didepan. Dalam mengikuti pelajaran disekolah, tiga bulan awal ulangan-ulanganku sering tidak diberi nilai (bien sûr) namun entah mengapa itu malah menambah semangat untuk belajar, biasanya aku cari materi lewat internet untuk mencari penjelasan, aku tidak begitu bisa menulis essai untuk ulangan-ulangan, seringkali dinilai tidak sempurna karena setiap jawaban perlu penjelasan. Aku belajar lebih banyak tentang Eropa dan Perancis dari situ.

Lalu gastronomie khas perancis, dari host mom ku yang jago masak sampai kantin sekolah. Jenis makanan perancis jauh berbeda dengan indonesia, mereka sering makan pasta, dan daging yang dimasak tidak terlalu matang masih kemerah-merahan. Biasanya kami tiga kali makan, sarapan, makan siang dan makan malam. Saat sarapan, biasanya kami hanya makan sereal, roti dengan selai, yoghurt, jus, susu atau dengan kue. Saat makan siang, ada tiga porsi, entrée (pembuka), plat (menu utama), fromages (keju) dan dessert (pencuci mulut). Saat makan malam jika ada tamu atau hari spesial sebelum entrée ditambah apéritif (appetizer) yaitu snack dengan le vin blanc (anggur putih), dan le vin rouge (anggur merah) pada hidangan utama. Tidak heran bila naik berat badanku. Jika orang indonesia selalu makan nasi, orang perancis tidak bisa tidak makan dengan roti atau baguette, vins (wine) dan fromage dengan jenis yang berbeda-beda. Aku sudah mencoba makanan spesial perancis seperti foie gras (hati angsa) atau bûche (kue gulung) yaitu makanan khas untuk natal. Lalu les huîtres (oysters mentah) dan seafood lainnya yang kumakan saat liburan oktober, kami menginap di pantai di kota bernama Sables d’Olonnes. Desserts nya pun, bukan main enaknya, dari riz au lait, chocolat mousse, tarts, dan banyak lainnya.

Aku mengikuti aktifitas sehari-hari mereka, sistem edukasi mereka, sopan santun, geografi Perancis, cara mereka bersosialisasi, humor mereka, iklim yang berubah-ubah dari l’automn ke l’hiver, hari-hari spesial mereka seperti natal, mengunjungi tempat-tempat menarik  seperti kastil-kastil tua, dan begitu banyak lagi.

Aku merasa beruntung karena pada tiga bulan awal sudah banyak kegiatan yang kulakukan. Pada bulan pertama aku diundang ke pesta teman adikku, lalu di suatu weekend di awal oktober diajak famille d’accueil de Nolan ke Paris untuk mengunjungi Versailles. Saat liburan di bulan oktober kami pergi ke pantai di daerah Sables d’Olonne lalu minggu berikutnya aku diajak dengan salah satu returnee AFS pergi ke Portugal selama lima hari. November aku mengunjungi host brother di Nantes dan menginap semalam di apartemennya, lalu pergi field trip dengan kelas untuk mengamati batu-batuan untuk geografi. Sekolah kami mengadakan Internationale Soirée dengan anak-anak exchangers di sekolah sebagai pengisi acaranya, Aku menampilkan tari kipas. Lalu natal tiba di akhir november, menghias rumah dengan pohon natal, mencari kado-kado natal untuk keluarga Vestit, dan tahun baru ke acara pesta teman adik ku, lalu saat itu salah satu dari teman Jason dari Denmark datang ke rumah kami untuk liburan, hari pertama kami bertiga keliling di Paris mengunjungi banyak tempat dengan metro, lucunya bahasa inggrisku jadi lebih sulit dari sebelumnya, aku harus lebih banyak berpikir untuk mencari kata, bahkan aku membantu traduire dari bahasa perancis ke inggris untuknya, host mom ku bilang itu merupakan bukti bahwa aku sudah banyak progres. Sebenarnya bukan hanya itu yang sudah kulakukan di tiga bulan pertama namun selain itu aku tidak ingat semua.

Aku merasakan perbedaan dari pertama kali datang sampai bulan ke tiga, teman-temanku sering bilang mereka melihat progres ku dari nol dan terkejut betapa cepatnya aku belajar. Itu bukan masalah kepintaran. Walaupun susah payah untuk beradaptasi, aku tahu bahwa ini semua butuh waktu, doa, kesabaran, dan upaya yang keras untuk benar-benar berhasil. Waktu terasa sangat cepat berlalu, dan aku bertanya apakah aku sudah bertambah dewasa ? pulang nanti akan banyakkah aku berubah ?

'Why France?'

So it was my fault for always undo the posts that i should have posted like 6 months before, i’ll regret it. ah, i already am.

today is mercredi or wednesday. normalement i had only 3 hours of cour+6 so we finish at 12pm, catched a bus at 12.30pm and ate lunch at home. today’s a little bit special, a journalist coming in an hour to ask us (Elin, April, and me) questions for our 6 months in france, as an exchanger. Mom gave me the email which he mentioned the quetions he’ll posing. the question i feared the most was typed on the paper, ‘why france?’

it should be an easy one, but no. not to me. i always be the one who likes to give strong words, lots of meanings, and original. or maybe i’m just simply scared of spitting stupid answers. not to mention speaking with bad grammar.

I’m worried that i would not present my self as an exchanger who had passed her half year.

what i’m i kidding, guess i just over think.

an hour after, April was there then came Elin. We did talked a bit until the journalist man came. i was taken back a little when i saw him, it’s not because im expected him to be a little-too….. old (me being polite). we sat down at the diner table and i realized he wore a hearing aids. Mom introduced Mr Rillet then joined us at the table. He’s a little bit crooky i would say.

He asked the exact same questions as the questions that my mom made me prepared. from all six quetions posed, the only one that’s too hard to answer is, ‘why France?’

hell yeah i knew from A to Z why i choosed France

but i just couldn’t find what answers were they expected. something that would please them?


What do you do When your hearts in two places? You feel great but you’re torn inside. You feel love but you just can’t embrace it, When you found the right one at the wrong time.You could be my hero if only I could let go, But his love is still in me like a broken arrow.

25 jours, 25 days

time is fleeting, nine months swiftly passed. i started to count down the remaining days. twenty five. vingt cinq

stasiun kereta tiba tiba menjadi tempat yang akan sangat berarti. tempat terakhir mengucapkan selamat tinggal, melambaikan tangan, bisous terakhir dengan host family. tempat menandakan berakhirnya perjalanan ini. sepuluh bulan penuh pelajaran berharga. pengalaman berarti. yang nantinya hanya tinggal kenangan indah.

Maman (panggilan ibu di perancis) kemarin kasih gue tiket kereta untuk Angers-Paris. tertulis tanggal 9 juli. gak bisa boong, gue terkejut. agak speechless. Dia gak mengekspresikan apa-apa. kita hanya bilang ‘le temps est vite passé, hein?’ (waktu cepat berlalu ya?) sejujurnya gue agak mengharapkan dia sedih atau gimana gitu.. tapi muka nya saat itu biasa-biasa aja.

minggu lalu di stasiun kereta Angers, Maman nganter untuk gue pergi ke Nancy bareng host-brother, Stephen. tiba tiba dia nostalgia waktu Kann, exchanger dari Thai yang tinggal di host family gue tahun lalu, berangkat ke Paris. dia tertawa mengingat saking dia sibuk sedih, sampai lupa kasih pique-nique (piknik, bekal makan siang) yang udah di siapkan. terus tiba-tiba, gue liat air mata di kedua matanya… bahkan waktu kereta sudah tiba, dan kita saling bisous, waktu dia berbalik dan pergi, gue liat mukanya merah dan penuh air mata.

gue gak bisa memungkiri untuk berpikiran negatif, ‘Maman nangisin kann, bahkan waktu gue mau berangkat' tapi jujur, sedih…

perasaan ini sulit di jelasin, terang bukan jealous. tapi sedih aja.

Jason (my other host-bro) bilang tahun depan pasti Maman sibuk cerita-cerita tentang gue. it’s natural, supposed to be. i indeed understand that, but i doubt that she cares about me not as much as she is with Kann. kayak… gue kurang berkesan.

itu normal kalau gue merasa begitu, setiap exchangers jika di tempat gue akan berperasaan yang sama. karena kita datang ke keluarga host, ingin dicintai sebagai keluarga, ingin nantinya dikenang.

ok. Arrêtes de penser de choses negative, stop negative thinkin.

25 hari…. gue gak bisa bayangin tanggal 9 juli, hari terakhir bersama host family gue. gue pastinya akan sangat sedih, sepuluh bulan bukan sekedar sepuluh bulan. Gue banyak belajar, dan pikiran juga wawasan semakin terbuka. gue dapet keluarga baru, tinggal didalamnya dan berhasil beradaptasi dengan budaya perancis. gue berkenalan dengan banyak teman baru, mendapati sahabat sahabat baru, lokal dan internasional. gue fasih berbahasa perancis (gak se fasih itu sih, tapi lumayan bangga). belum lagi sepuluh bulan penuh dengan mengunjungi tempat tempat baru, dan benar benar menarik!

dalam 25 hari gue akan kembali pulang ke Indonesia. pulang ke tanah air, pulang kepada orang tua, adik-adik. kembali ke dunia nyata.

Justin wasn’t half getting knocked around in the basketball game…

helloadri3ne:

deniseanne9:

LOL AWH<3

now that makes me laugh!

(Source: justbeliebinlove, via geekarepeopleinterest)